In virtue of this catholicity each individual part
contributes through its special gifts to the good of the other parts
and of the whole Church.
– Lumen Gentium 13 –
Pada tahun 2024, Paus Fransiskus mengadakan sesi terakhir Sinode Para Uskup di Roma. Menariknya, pada tahun itu, dari 368 peserta aktif, 96 di antaranya adalah non-uskup, dan sekitar 54 peserta adalah perempuan. Para peserta non-uskup, termasuk awam, tidak hanya hadir sebagai konsultan, tetapi juga turut ambil bagian dalam pemungutan suara atas dokumen yang hendak disahkan dan dirilis. Terlebih lagi, dalam diskusi bersama, baik para uskup, imam, suster, maupun awam juga duduk bersama dalam kelompok kecil, mengungkapkan rasa syukur maupun kegundahan mereka terhadap situasi dunia maupun Gereja Katolik sendiri. Mereka saling bercerita maupun mendengarkan satu sama lain, berdasarkan konteks lingkungan serta pengalaman masing-masing secara personal. Peristiwa ini hendak menggambarkan bahwa Gereja berupaya terbuka terhadap berbagai pandangan, termasuk dari umat awam. Dengan kata lain, tugas Gereja tidak hanya menjadi milik klerus maupun religius, tetapi juga Kristen awam. Rahmat baptisan telah mengundang semua umat Kristiani untuk terlibat aktif di dalam Gereja.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengikuti program pembekalan pembimbing rohani dari CIS (Center of Ignatian Spirituality) di Manila. Menariknya, kurang lebih setengah dari pesertanya adalah awam Katolik, baik pria maupun wanita. Mereka sangat antusias mengikuti program yang diadakan selama kurang lebih 10 hari ini. Saya merasa terkesan dengan semangat mereka. Bersama dengan beberapa Yesuit, para panitianya juga didominasi oleh awam, bahkan ketua penyelenggaranya adalah Maria Riza Carasig, seorang awam yang antusias dengan Spiritualitas Ignatian. Tidak hanya itu, salah seorang panitia yang menjadi pembicara, bahkan juga supervisor para religius dalam latihan menjadi pembimbing rohani, juga memulai pelayanannya sebagai seorang pembimbing rohani dari kalangan awam ketika berusia 20-an tahun. Suatu ketika, saya bertanya kepada seorang peserta terkait ketertarikan mereka untuk mengikuti program pembimbing rohani ini. Dia mengatakan, “Saya senang mendengarkan orang lain dan memang tertarik untuk melayani sebagai pembimbing rohani.” Di dalam hati, saya pun merenungkan bahwa ini menjadi peluang yang bagus bagi umat awam untuk terlibat aktif dalam tugas Gereja sebagai pembimbing rohani. Mereka pun tidak segan berbagi pemahaman dan pengalamannya tentang spiritualitas bahkan juga kepada biarawan-biarawati.
Kini, banyak dokumen gereja yang mendorong umat awam untuk ikut serta dalam misi Kristus. Entah terlibat baik dalam hal gerejawi maupun hidup sehari-hari. Melalui tugas, maupun doa-doa pribadi dan komunitas. Sejak pembaptisan, kita telah menerima karunia yang melimpah secara personal berdasarkan keunikan masing-masing. Seperti yang dikatakan oleh St. Paulus, “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.” (bdk. Rom 12:6) Maka, pertanyaannya, karunia macam apa yang kumiliki untuk dapat dipersembahkan demi perkembangan Gereja dan iman sesamaku?
-o0o-
“Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara,
sebab aku ini masih muda.”
Perasaan Tidak Pantas karena Tak Berkecukupan
Tidak ada yang benar-benar merasa yakin 100% dan pantas dengan pilihan serta panggilan hidupnya untuk menjalani suatu tugas yang besar. Bahkan Nabi Yeremia pun tidak. Seorang nabi yang pernah mengkritik raja-raja Yehuda karena menyembah berhala sampai dipenjara pun sempat mengalami kegundahan. Dia merasa tidak pantas karena ketidakmampuannya untuk fasih berkata-kata serta tiadanya pengalaman untuk memimpin. Yeremia mengatakan, “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (bdk. Yer 1:6) Tentu, menjadi seorang nabi merupakan sebuah tugas yang besar dan memiliki konsekuensi yang besar juga. Akan tetapi, Tuhan meneguhkan dengan berkata, “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.” (bdk. Yer 1:7)
Justru ketika merasa takut untuk menunaikan suatu tugas dan kemudian berhasil melampaui pekerjaan tersebut, kita dapat merasakan perasaan bangga. Rahmat yang dialami pun akan terasa sangat besar. Sebaliknya, terlalu percaya diri (over confident) malah justru menjadi batu sandungan. Orang bisa terjatuh pada pandangan bahwa segalanya menjadi layak justru karena diriku.
Seringkali dalam berbagai pengalaman yang terjadi, Tuhan justru mengajak kita untuk berada di dalam tegangan: antara merasa tidak mampu, tetapi juga mau melakukan tugas dan bertumbuh dari pengalaman tersebut. Bisa juga terjadi tegangan antara perasaan orang lain yang lebih layak mengemban tugas itu, tetapi juga ada perasaan bersyukur atas rahmat penugasan. Maka, berdiskresi menjadi penentu di kala kita berada dalam tegangan tersebut.
Terlebih lagi, kita mungkin juga bisa belajar dari St. Petrus. Bahwa perasaan tidak pantas justru memberikan ruang bagi kehadiran Yesus di dalam pelayanan yang kita lakukan. Kisah Para Rasul menarasikan kisah ini dengan sangat indah. Suatu saat, ada orang buta dan lumpuh yang meminta-minta di depan Bait Allah. Dia memohon sedekah kepada Petrus saat hendak masuk ke Bait Allah. Akan tetapi, Petrus mengatakan, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah.” (bdk. Kis 3:6) Disposisinya tertuju pada Yesus, yang dapat memberikan keyakinan lebih untuk terlibat dalam pelayanan, bahkan menyembuhkan. Perasaan berdosa dan tidak layak kerap kali hadir, terutama ketika ia berada bersama dengan Yesus. Namun, peristiwa kebangkitan dan penampakan Yesus kepadanya yang justru memberikan daya dan semangat untuk berbuat sesuatu bagi orang lain di dalam nama Yesus Kristus.
-o0o-
We are all called to be holy by living our lives with love
and by bearing witness in everything we do,
wherever we find ourselves
– Gaudete et Exultate by Pope Francis –
Beban Pekerjaan di Kantor
Memang, tidak mudah untuk menanggapi panggilan Tuhan untuk terlibat aktif di dalam pelayanan Gereja. Terutama dengan adanya hiruk pikuk beban pekerjaan di kantor. Tuntutan yang besar dengan atasan kerap kali telah menguras tenaga setiap harinya. Hampir sulit untuk mencari ruang untuk melibatkan diri dalam komunitas pelayanan. Bagaimana jika kerinduan untuk aktif dalam kegiatan seperti itu muncul, tetapi selalu terhalang pada kesibukan pekerjaan? Kendati kerinduan itu mungkin hanya sesaat, bisa jadi itu adalah panggilan yang berasal dari Roh Kudus sendiri, menyapa lewat berbagai pengalaman sehari-hari. Pengalaman itu adalah undangan lembut dari Allah untuk masuk berelasi lebih dalam dengan-Nya.
Di sisi lain, St. Ignatius juga mengajarkan pentingnya discernment, melihat kembali gerak roh yang ada di dalam diri ini, seraya menimbang-nimbang pilihan yang terbaik. Mengatakan tidak untuk saat ini, dengan alasan keterbatasan waktu dan tenaga, bukan berarti menutup segala kerinduan. Kita bisa memelihara kerinduan itu dalam doa, sambil memohon kebijaksanaan dari Tuhan untuk melihat bagaimana dan kapan kita dapat mewujudkannya. Kita juga dapat memohon agar kerinduan tersebut dapat tetap menyala hingga menemukan cara yang tepat untuk mengabdikan diri bagi Tuhan. Setiap pribadi memiliki kekhasan masing-masing dalam menjawab kerinduan tersebut, begitu pula Tuhan yang menyapa kita secara personal.
Tuhan tidak pernah berhenti memanggil, dan Ia tidak terikat oleh ruang dan waktu. Bahkan di tengah kesibukan pekerjaan, setiap tindakan kasih dan kesetiaan adalah bentuk pelayanan yang mulia. Yang penting adalah hati yang terbuka, kerinduan yang dijaga, dan kesiapan untuk merespon bila waktunya tiba. Terlebih lagi, Spiritualitas Ignasian telah menawarkan cara pandang, “Menemukan Tuhan dalam Segala,” untuk tetap dapat berelasi dengan Yang Ilahi di tengah kesibukan sehari-hari. Magis yang menjadi sikap dasar untuk bersikap lebih tidak hanya terkait integritas untuk menunjukkan yang terbaik, tetapi sejauh mana pelayanan yang diberikan juga terarah kepada Tuhan, demi kemuliaan-Nya yang lebih besar.
-o0o-
Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah,
Juruselamatku sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.
Sesungguhnya, mulai dari sekarang
segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, …
– Luk 1:46-48 –
Maria, Patron Kesediaan Hati
Dalam beberapa bagian Latihan Rohani, Ignatius sering mengundang retretan untuk melakukan percakapan kepada Bunda Maria, seraya mengungkapkan apa yang memenuhi hati ini “untuk dapat lebih baik mengikuti dan meneladani Tuhan kita yang baru saja menjelma.” (LR 109) Dia adalah gambaran seorang ibu yang mau mendengarkan anak-anaknya, serta siap menyampaikannya kepada Yesus Kristus, Putera-nya yang terkasih.
Di samping itu, Maria juga menjadi teladan kesiapsediaan menjalani perutusan dari Allah sendiri. Ia diberikan tugas yang sungguh tidak mudah: melahirkan seorang Juruselamat. Menerima tugas berat itu, Maria juga merasa tidak layak. Terlebih lagi, dia berasal dari keluarga sederhana yang jauh dari status sosial tinggi. Pun juga situasi politik bangsanya yang berada di bawah penjajahan Romawi. Akan tetapi, dalam keterbatasan itulah Maria menunjukkan sikap hati yang luar biasa. Ia tidak menuntut penjelasan panjang atau jaminan panjang. Ia hanya menjawab dengan rendah hati, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (bdk. Luk 1:38). Peran Maria, yakni menjadi ibu seorang Mesias, terlibat dalam mujizat di Kana. Hingga akhirnya ia menyaksikan Pputeranya sendiri wafat di kayu salib dengan cara yang mengenaskan. Dalam semuanya itu, Maria menunjukkan diri sebagai teladan untuk terbuka terhadap segala macam tugas dan pelayanan kepada Allah di dunia.
Maka, marilah kita memohon rahmat untuk dapat meneladani Bunda Maria di dalam keterbukaannya pada tugas yang ditawarkan Tuhan kepadanya.
-o0o-
Nothing is more practical than finding God,
than falling in Love in a quite absolute, final way.
What you are in love with, what seizes your imagination, will affect everything.
It will decide what will get you out of bed in the morning,
what you do with your evenings, how you spend your weekends,
what you read, whom you know, what breaks your heart,
and what amazes you with joy and gratitude.
Fall in Love, stay in love, and it will decide everything.
– Pedro Arrupe –
Laurencius Rony A., SJ
Laurencius Rony A., SJ. Seorang frater Jesuit Provinsi Indonesia. Akrab disapa Fr. Rony, SJ. Saat ini sedang menjalani studi teologi tahun ketiga di Loyola School of Theology, Manila. Tinggal di Arrupe International Residence, Filipina.




