Jika Tuan Mau

Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”

Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. —  Lukas 5 : 12–13

Berapa banyak dari kita yang mengungkapkan kata-kata “jika Engkau mau” ketika memohon sesuatu kepada Tuhan? Tentu dalam doa “Bapa Kami” kita selalu mendoakannya, “jadilah kehendak-Mu.” Namun, seberapa sering kita benar-benar menghayati kalimat tersebut, jadilah kehendak-Mu? Dalam spiritualitas Ignasian, kita belajar untuk mengenali keinginan terdalam kita — deepest desire — sebagai panggilan hidup dan kehendak Tuhan atas diri kita.

Seperti orang kusta dalam Injil Lukas yang mengiginkan kesembuhan — sebuah kebutuhan jasmani yang mendasar, Tuhan pun ternyata mengiginkan kesembuhan untuk diri orang kusta tersebut. Kebutuhan-kebutuhan jasmani kita ternyata dikenali, divalidasi, dan juga diinginkan oleh Tuhan. Seringkali aku merasa tergoda untuk berpikir bahwa Tuhan mengiginkan sesuatu yang sama sekali berbeda dengan apa yang aku inginkan, oleh karena itu aku harus berkorban dan menyangkal diri sedemikian rupa untuk melakukan kehendak-Nya. Menyangkal diri dan memikul salib memang merupakan panggilan sentral dalam mengikuti Tuhan. Namun, aku menyadari bahwa kejujuran akan siapa kita di hadapan-Nya harus mendahului hal tersebut. Kita harus berelasi dengan Tuhan secara mendalam untuk dapat memahami sungguh apa yang dimaksud dengan menyangkal diri, serta apa yang dimaksud dengan melakukan kehendak-Nya. Allah mengenal dan mengasihi kita tanpa batas, dan Allah memanggil kita untuk berelasi dengan-Nya.

Hal lain yang aku pelajari dari orang kusta di Injil Lukas adalah sikap batin dan gestur tubuhnya ketika ia meminta kepada Tuhan — tersungkur. Sikap merendahkan diri di hadapan Allah yang mengasihi kita. Relasi manusia yang mendalam dengan Allah tidak meniadakan hormat dan sembah sujud manusia kepada-Nya. Allah adalah Allah, dan kita adalah manusia yang dikasihi-Nya. Mengasihi-Nya berarti juga menghormati-Nya sebagaimana seharusnya. Tegangan antara mengasihi dan menghormati Tuhan dengan pantas kadang aku rasakan dalam berelasi dengan-Nya. Namun, aku percaya bahwa Allah tahu segala keterbatasan dan realitas hidup kita apa adanya. Dalam setiap ketidaksempurnaan kita dalam mengasihi dan menghormati-Nya sebagaimana seharusnya, Ia tetap setia memberikan rahmat-Nya. Tugas kita adalah membuka diri untuk rahmat dan cinta-Nya mengubah kita menjadi semakin serupa dengan-Nya.


Fransiska Indah S.

Indah merupakan formasi MAGIS Jakarta 2023 dan juga seorang dokter gigi umum yang saat ini sedang bekerja di Nusa Tenggara Timur. Senang menghabiskan waktu luang untuk membaca, berolahraga, serta mendengarkan musik dan podcast. Memaknai hidup sebagai perjalanan panjang untuk semakin menemukan Tuhan dalam segala hal dan menjadi saluran cinta-Nya untuk orang lain.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *