Mengolah pengalaman dan perasaan selama menjadi formandi di MAGIS, khususnya dari Perbul 3 sampai Perbul 4 kemarin sejujurnya perasaan mixed feeling. Melalui circle ini aku merasa bahagia karena diberi kesempatan untuk berproses mengenal orang-orang baru. Aku boleh mengenal Kak Rosa, Igo, Bang Agusto, Lala, Michelle, dan Vianney yang diciptakan secara otentik oleh Tuhan dengan segala karakter, kehidupan, dan sejarahnya masing-masing.
Hal yang masih tidak kusangka adalah aku bisa dengan terbuka berbagi cerita baik dan buruk, bahkan pengalaman yang sebelumnya belum pernah kuceritakan kepada siapapun ke circle ini. Melalui circle Antler aku memperoleh value dari relasi yang dibangun bukan hanya dari pertemanan, namun juga kepercayaan dan rasa aman. Semuanya ini aku dapatkan dalam waktu kurang dari 100 hari. Suatu hal yang singkat namun sangat bermakna.
Meskipun demikian, pada beberapa kesempatan aku merasakan keragu-raguan dalam diriku: apakah aku sudah berbaur dengan baik atau belum. Apalagi aku termasuk yang jarang aktif di grup WA. Pun juga masih cenderung lebih nyaman apabila bertemu dan bercerita secara langsung dengan teman-teman. Oh ya, hampir setiap selesai perbul kita berkumpul untuk saling mendengarkan dan menguatkan.
Lima hari setelah perbul 4, yaitu ketika long weekend, cirle Antler pun beraktivitas bersama di luar. Kita memilih untuk tracking & camping di Sentul. Aktivitas itu membuka perspektif baru buatku akan circle Antler. Aku menyadari bahwasanya kita berkumpul dalam kasih dengan talenta dan kemampuan yang kita miliki masing-masing. Mulai ketika tracking dimana Igo membantu Michelle yang baru pertama kali tracking dan kondisinya hujan saat itu. Kemudian Lala yang selalu cheerful memimpin jalan. Bang Agusto yang ikut menemani dengan seduhan kopi spesialnya di tenda. Masakan yang lezat dibuat oleh Kak Rosa dan Vianey. Momen-momen yang di-capture oleh Michelle. Lagu-lagu Evergreen yang diputar Igo hingga snack sederhana yang aku sediakan. Semuanya itu membuatku merasakan rasa syukur yang mendalam: bahwa kita semua berusaha menghidupkan momen kebersamaan dengan apa yang kita punya dan apa yang bisa kita lakukan.
Singkatnya, I got more than what I was expecting. Semula aku hanya berharap dapat bergabung di komunitas untuk memenuhi kerinduanku, yaitu untuk kehidupan berkomunitas yang semakin menjalin relasi intim dengan Tuhan dan memiliki support system. Ternyata Tuhan memberiku lebih dari itu. Melalui MAGIS, Dia mengenalkanku akan cinta-Nya. Membawaku menyelam semakin dalam dan membuka perspektif baru akan spiritualitas Ignatian. Tak lupa keluarga baru yang saling menghidupi dalam kasih.
Yugo Artonanda
Akrab dipanggil Yugo, adalah seorang pehobi kerja yang sedang berziarah merefleksikan panggilan hidup dan memaknai lifelong learning. Saat ini berproses sebagai formandi di Magis Jakarta 2025


