Gambar 1 (Buku Surrounded by Idiots)
| Judul Buku | Surrounded by Idiots |
| Tahun Terbit | 2014 |
| Penulis | Thomas Erikson |
| Penerbit | Bentang Pustaka |
Pernahkah kamu merasa dikelilingi oleh orang-orang yang “tidak nyambung”?
Kamu sudah berusaha menjelaskan sesuatu dengan jelas, tapi tetap saja salah paham. Atau kamu punya rekan kerja yang kelihatannya keras kepala, lambat, terlalu detail, atau terlalubanyak bicara. Dulu, aku sering berpikir seperti itu. Sampai suatu hari, aku membaca buku Surrounded by Idiots karya Thomas Erikson dan rasanya seperti cermin yang tiba-tiba ditempel di depan wajahku.
Pada buku tersebut, Erikson mengatakan bahwa manusia punya empat tipe perilaku yang digambarkan dengan warna: merah, kuning, hijau, dan biru. Merah itu tegas, cepat, dan berorientasi hasil. Kuning penuh semangat, suka bicara, dan selalu optimis. Hijau sabar, pendengar baik, dan menjaga kedamaian. Biru teliti, logis, dan selalu ingin segala sesuatu sempurna. Sebelum membaca buku itu, aku berpikir bahwa masalah dalam relasi biasanya karena orang lain yang salah. Tapi ternyata, yang perlu aku ubah bukan orang lain, melainkan caraku memandang dan merespons mereka. Aku mulai belajar mengenali diri sendiri berdasarkan kategori warna tersebut. Dulu aku sering jengkel, melihat teman yang terburu-buru dan kurang mendengarkan orang lain. Tapi setelah membaca buku ini, aku sadar: dianggap bermaksud begitu, dia hanya punya “bahasa perilaku” yang berbeda dariku.
Saat itulah aku mulai mengingat kembali ajaran St. Ignatius Loyola tentang “mencari dan menemukan Tuhan dalam segala hal.” Ternyata, Tuhan pun hadir dalam perbedaan warna kepribadian itu. Kalau Ignatius mengajak kita untuk discernment, mengenali gerak batin yang membawa kita lebih dekat atau lebih jauh dari Tuhan. Sedangkan buku ini mengajakku untuk melakukan discernment juga, tetapi dalam konteks hubungan antar manusia.
Aku mulai bertanya:
Ignatius pernah menulis bahwa cinta itu lebih banyak terwujud dalam tindakan daripada sekadar kata-kata. Mungkin belajar memahami orang lain itu meski sulit, namun bisa jadi salah satu bentuk cinta yang paling nyata. Ketika aku belajar menyesuaikan diri dengan “warna” orang lain, aku sebenarnya sedang berlatih mencintai tanpa syarat. Bukan dengan memaksa mereka menjadi sepertiku, tapi dengan menerima bahwa mereka juga adalah bagian dari lukisan besar Tuhan yang berwarna-warni.
Ada satu pengalaman kecil yang membuka mataku. Suatu hari saat rapat kerja, temanku si “merah” dengan cepat memotong pembicaraan dan memutuskan sesuatu tanpa diskusi panjang. Aku mulai merasa kesal, tapi kemudian aku berpikir, “Bisakah aku melihat Tuhan dalam dirinya?” Aku berhenti sejenak, menarik napas, lalu mencoba memahami niat baik di balik tindakannya. Ternyata, dia hanya ingin tim bergerak cepat karena waktu kami terbatas.
Dalam spiritualitas Ignatian, ada satu prinsip penting: “melihat segala sesuatu dengan hati yang besar (magnanimity)”. Mungkin di dunia yang penuh warna seperti ini, hati yang besar dibutuhkan untuk tidak cepat menilai orang lain. Karena kadang, yang kita sebut “idiot” bukanlah orang yang bodoh, tapi orang yang belum kita pahami.
Aku teringat doa favorit Ignatius yaitu “Doa Mohon Kemurahan Hati”.
Mungkin sekarang aku bisa menambahkan satu baris kecil di hatiku sendiri: “dan memahami tanpa harus selalu setuju”. Karena pada akhirnya, hidup ini memang bukan perihal membuat semua orang sama dengan kita, tetapi tentang berjalan bersama dalam perbedaan, dengan kasih, kesabaran, dan pengertian. Seperti warna-warna yang berbeda dalam satu pelangi, kita semua punya peran dalam mencerminkan keindahan Sang Pencipta. Buku Surrounded by Idiots menolongku untuk melihat manusia dengan mata hati, sesuatu yang sejalan dengan spiritualitas Ignatian. Aku belajar bahwa refleksi tidak hanya dilakukan dalam doa, tetapi juga dalam percakapan sehari-hari: saat kita mendengarkan, menahan diri, dan berusaha memahami. Pada setiap proses kecil itu, Tuhan hadir dalam wajah-wajah yang dulu kupikir “nggak nyambung,” tapi sekarang kutahu: mereka hanyalah warna lain dari kasih yang sama.
Fransiska Natalia Purba
Fransiska Natalia Purba akrab dipanggil Siska. Lahir di Bukittinggi, kini menetap di Bekasi. Senang menulis tentang hal-hal sederhana yang ditemui di perjalanan hidup, sambil terus belajar dan bertumbuh dari setiap pengalaman. Saat ini menjadi pengurus MAGIS Jakarta, sebelumnya menjadi formandi MAGIS Jakarta 2024.

