MAGIS INDONESIA – Update MAGIS Yogyakarta Juli 2025

MAGIS Update Chapter Yogyakarta

Menolong Jiwaku, Sesama, dan Semesta dengan Kekuatan Cinta Ilahi:

Diutus untuk Hidup Sebagai Peziarah Pengharapan

Oleh: Donda Sihite

Halo semua! Tiba-tiba, Formasi MAGIS Jogja 2024/ 2025 udah selesai aja nih. Cepet banget nggak sihh?? NGGAAAKKKK. Akhirnya, tibalah 9 orang formandi tercinta MAGIS Yogyakarta 2024/2025 di akhir perjalanan mereka berformasi. Setelah kurang lebih setahun berdinamika bersama, lewat 4 Pertemuan Bulanan (Perbul) terakhir dalam formasi mereka, teman-teman formandi diajak untuk semakin menyadari tujuan kita diciptakan sebagai manusia. Dalam prosesnya, teman-teman juga belajar untuk mengenal Sang Cinta Ilahi dan bagaimana cara untuk senantiasa terkoneksi dengan-Nya: Sang Bahan Bakar Sejati, sebagai pondasi bagi peziarahan dan perutusan dalam hidup.

Waduch, berat ya Kakk?? Engga berat kok. Buktinya, dengan penuh semangat dan komitmen, teman-teman formandi berhasil melaluinya hingga akhir. Tidak mudah, namun pelan-pelan mereka mengusahakan pengolahan dalam hidup harian itu sepanjang bulan Maret-Juni 2025. So prouddd!! Yukk kita simak kisah perjalanan mereka dalam Perbul Helping Souls, Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta, Peregrinasi, dan Retret Perutusan ^^

Perbul 7: Helping Souls

Mau nolongin jiwa siapa sih, Kak?? :”) Yakk betul. Pertama-tama, mari kita tolong jiwa kita sendiri ya, adik-adik

“Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita,

dan demikian menyelamatkan jiwanya.”

Dalam Perbul Helping Souls, teman-teman diajak untuk melihat kembali tujuan manusia diciptakan. Perjalanan panjang menelusuri Sejarah Hidup, menemukan Asas dan Dasar, hingga belajar berdiskresi untuk kemudian dapat menanggapi dan mengikuti Panggilan Raja Abadi dalam “proyek” karya keselamatan Tuhan Allah melalui berbagai perbul sebelumnya dilakukan untuk pertama-tama menyelamatkan jiwa sendiri. Mengolah masa lalu supaya bisa menjalani masa kini dengan penuh dan utuh, kini dan di sini. Namun, layaknya St. Ignatius Loyola -panutan kita semua-, tentu saja segala rahmat yang telah diterima sepanjang pengolahan hidup harian ini tidak hanya akan digunakan untuk aku dan diriku saja kann.

“Cinta harus lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-kata.”

(LR. 230)

Tindakan konkret untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah adalah lewat karya pelayanan bagi sesama dan semesta: “to be men and women for and with others”. Teladan St. Ignatius mengajak kita menanggapi dan membalas cinta-Nya lewat tindakan nyata. Terutama karya-karya pelayanan yang berpihak pada mereka yang Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel (KLMTD).

Hal ini juga ditegaskan oleh Mas Adi selaku pemateri Perbul Helping Souls, dimana arah gerak , dinamika dan karya kerasulan St. Ignatius ditandai dengan ciri humanis. Helping Souls sendiri berarti memberikan pelayanan dalam keseluruhan diri dan keseluruhan hidup seseorang. Semangat pelayanan ini juga semakin nyata dapat dialami dan dimaknai oleh teman-teman lewat sharing pengalaman dari Mbak Ulin, alumni MAGIS Yogyakarta. 

Mbak Ulin membagikan kisah perjalanannya saat volunteering di Kamboja, yaitu ketika melayani warga yang banyak menjadi penyandang disabilitas akibat konflik dan perang. Dinamikanya saat menemani warga difabel lewat karya pendidikan dan kesehatan benar-benar menginspirasi. Cerita Mbak Ulin yang mendapatkan kekuatan dari warga yang sangat bersemangat untuk belajar berkebun, berolahraga, serta melanjutkan hidup menjadi sarana bagi teman-teman untuk menelusuri lebih jauh apa itu Helping Souls

Materi dan sharing dalam Perbul Helping Souls pada akhirnya semakin memperkaya khazanah makna teman-teman (ashekk) tentang menemani dan melayani sesama, setelah sebelumnya telah mencicipi pengalaman karya pelayanan yang “nyata” saat mengikuti MAGIS Action Day (MAD). 

Panti Asuhan Sayap Ibu Kalasan, rumah bagi teman-teman difabel, serta Perkampungan Sosial Pingit, kawasan tinggal keluarga dan anak-anak kaum marginal, merupakan lokasi MAD Yogyakarta 2025. Salah satu formandi saat bercerita tentang pengalaman MAD-nya mengatakan bahwa lewat MAD dia benar-benar jadi memiliki pemahaman baru tentang apa itu menemani.

Ternyata, menemani dapat berbentuk hadir dan ada di sisi orang yang ditemani dan mendengarkan saja yaa.. Nggak harus muluk-muluk dan terpatok pada rancangan kegiatan tertentu gitu.. Menemani aktivitas harian mereka dengan keberadaan diri kita apa adanya ternyata sudah cukup. Rupanya yang pada awalnya dibayangkan kitalah yang akan “menolong jiwa mereka”, malah pada akhirnya ditolong oleh mereka! Semacam ada kekuatan yang didapat dari menemani teman-teman di Panti Asuhan Sayap Ibu maupun di Pingit.. Dan yahh.. begitulah indahnya dinamika menolong jiwa-jiwa ya ghes yaa.. Ada ketersalingan tak terduga di dalamnya..

Perbul 8: Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta

Bertepatan dengan Perayaan Minggu Palma, hari Minggu, 13 April 2025, formandi mengikuti perbul yang kali ini penuh dengan cintaa ❤️ Dalam Perbul Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta, Formandi diingatkan kembali bahwa akar perjalanan hidup kita pada mulanya adalah cinta.

Cinta Ilahi, yakni Allah sendiri yang merupakan Sang Cinta adalah dasar dan sumber kekuatan hidup. Kak Donda sebagai pemateri perbul ini mengawali sesi dengan kisah Ibu Sumarsih, yang mengalami transformasi cinta yang menggerakkan. Seorang ibu yang kehilangan putra tercintanya, Wawan, yang menjadi korban Tragedi Semanggi 13 November 1998. Dukanya yang telah diolah sedemikian rupa bertransformasi menjadi api penggerak yang membuatnya setia sampai hari ini dalam perjuangan mencari keadilan bersama keluarga para korban tragedi Trisakti, Semanggi I dan II lewat Aksi Kamisan. Aksi damai yang telah rutin digelar sejak Kamis, 18 Januari 2007 ini mampu melampaui sekat-sekat perbedaan ras, budaya, maupun agama. Perjuangan ini murni dilakukan bernafaskan hati nurani, jauh dari embel-embel kepentingan apapun. Hanya kemanusiaan.

Dalam perbul ini, teman-teman formandi juga diajak throwback ke perbul-perbul sebelumnya. Mereka mencecap-cecap kembali apa sih sebenarnya keterkaitan materi-materi sebelumnya dengan Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta. Seperti yang dialami Ibu Sumarsih, Sejarah Hidup yang telah diproses, dilihat dan diolah melalui kacamata kasih Allah secara lebih utuh dengan segala pengalaman gelap dan terangnya akan menghantarkan kita pada kesadaran akan tujuan kita diciptakan: Ad Maiorem Dei Gloriam! Kita juga dimampukan untuk lebih tenang dan jelas dalam berdiskresi, memilih dan memilah sarana dan tujuan dalam hidup. Tujuannya jelas, yaitu agar semakin lepas bebas dan menjadi lebih: be more, be MAGIS! (eaaa

Inilah yang menjadikan kontemplasi untuk mendapatkan cinta penting, yaitu untuk mendapatkan kekuatan cinta yang sungguh menggerakan: untuk terus berjalan, untuk terus bertahan, untuk terus berjuang dan tidak menyerah. Utamanya ketika menghadapi masa-masa sulit. Ini semua demi karya keselamatan bagi sesama dan demi kemuliaan Allah yang lebih besar lagi. 

Contemplatio ad Amorem atau Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta merupakan kontemplasi untuk meningkatkan, menghayati, mengamalkan, menyempurnakan, dan mengejawantahkan cinta. Amorem atau Cinta Ilahi merupakan bahan bakar utama dalam setiap karya pelayanan hidup harian kita. Oleh karenanya upaya terus-menerus untuk senantiasa terkoneksi dengan Cinta Ilahi merupakan hal yang terus diperjuangkan. Baik itu diusahakan melalui relasi personal yang mendalam dengan-Nya maupun relasi bermakna dengan sesama dan semesta. 

Bagaimana pengolahan Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta dapat membawa transformasi sedemikian rupa dalam hidup semakin dapat dipahami dengan lebih jelas lewat sesi sharing pengalaman oleh Kak Krisna. Setia dalam berproses mencari makna akan kondisi desolasi pada akhirnya dapat memberi kita kekuatan untuk merasakan dan membagikan cinta yang lebih besar pada diri sendiri dan sesama! Tak lupa, kami juga merayakan cinta di akhir perbul ini dengan merayakan dua formandi kami tersayang, Kak Sari dan Bang Is, yang berulang tahun di bulan April.

Jadi, sudahkah kamu mengalami Sang Cinta Ilahi dan membagikan cinta pada orang-orang di sekelilingmu hari ini?

Perbul 9: Peregrinasi

Incorporatio atau pembadanan materi dan proses pengolahan yang telah dilakukan selama delapan bulan terakhir oleh para formandi benar-benar diuji melalui peregrinasi. Mereka melakukan peziarahan bersama teman-teman seperjalan dalam kelompok-kelompok kecil. Perjalanan mereka, mulai dari berangkat sampai ke Gua Maria tujuan dan akhirnya kembali pulang tentu menimbulkan berbagai gejolak rasa dalam hati mereka. 

Oleh karenanya, dalam sesi persiapan peregrinasi, formandi diajak untuk melihat disposisi batin pribadi dan kelompok, yakni sebagai satu kesatuan peziarah yang akan memulai perjalanan. Tiap mereka diminta menuliskan apa yang menjadi ketakutan, kekuatan, hingga harapan terkait perjalanan peregrinasi ini. Ketika saling melihat sharing tertulis mereka, para formandi mengambil waktu hening dan menuliskan refleksi atas keresahan pribadi dan teman-teman yang telah mereka lihat.  Formandi juga dipandu berdoa memohon kehadiran dan bimbingan Roh Kudus dalam tiap langkah mereka nanti, melalui Doa Veni Sancte Spiritus. Bersama Roh Kudus, formandi menjadi Peziarah Pengharapan yang senantiasa mengandalkan cinta-Nya sepanjang perjalanan. Menjadi Peziarah Pengharapan karena mereka berjalan dengan menanggalkan kelekatan atas sarana-sarana yang selama ini mungkin diandalkan jika berjalan jauh.

Kita percaya, semangat peziarahan dalam peregrinasi adalah: “semakin aku berani melepaskan jaminan manusiawiku, semakin aku dapat mengalami kehadiran Allah.”

Sebelum berangkat, Romo Hendra SJ memberkati rosario yang akan menemani untaian doa para formandi sepanjang perjalanan. Romo juga memberi doa dan berkat sebelum tiap kelompok beranjak dari titik berangkat menuju Gua Maria tujuannya. Syukur pada Allah, para formandi pun akhirnya dapat menjalani peregrinasi dengan baik. Mereka semua pulang dengan selamat dan disambut para pengurus dengan penuh syukur dan haru. Dari Peregrinasi, para Peziarah Pengharapan ini menemukan rahmat dan buah-buah cinta-Nya lewat interaksi dengan diri sendiri, teman seperjalanan, maupun orang-orang yang ditemui sepanjang perjalan. Mereka akhirnya mampu merefleksikan makna yang dipetik secara otentik oleh masing-masing pribadi dan menutup perjalanan panjang ini dengan hati yang penuh syukur. Terima kasih sudah berjuang ya ghes!!

Perbul 10: Retret Perutusan

Menutup perjalanan pengolahan sebagai Formandi MAGIS Yogyakarta, tanggal 6-8 Juni 2025 teman-teman mengikuti perbul terakhir di Rumah Retret Panti Semedi (RRPS), Klaten. Dalam suasana retret yang hening, teman-teman diajak untuk banyak bermenung dan berkontemplasi dengan panduan doa-doa yang mengacu pada Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola.

Mereka lebih banyak mengolah secara pribadi dan membatasi interaksi dengan sesama formandi maupun para pengurus. Selama retret, formandi diajak untuk menelusuri kembali sejarah cinta Allah dalam perjalanan hidup mereka melalui semesta dan kehadiran orang tua. Mereka juga merenungkan bahan doa tentang panggilan kemuridan, kisah sengsara Yesus Kristus, hingga kebangkitan dan penampakan-Nya. 

Bahan-bahan doa ini diselingi dengan bacaan rohani yang bebas dipilih masing-masing individu sebelum retret dimulai. Seluruh dinamika retret ini diharapkan dapat memfasilitasi para formandi untuk mendengarkan tuntunan Allah tentang tugas perutusan dalam hidup harian mereka selanjutnya. Segala hal baik yang telah diperoleh di MAGIS kiranya dapat menjadi penggerak mereka untuk menemukan panggilan hidup dan melanjutkan hidup sebagai Peziarah Pengharapan dalam cinta Ilahi.

Perbul 10 ditutup dengan misa perutusan oleh Romo Hendra, SJ dan penyerahan sertifikat serta seperangkat merchandise MAGIS: kaos polo merah kebanggaan kita semua, pin MAGIS, stiker serta pembatas buku gemasshh ☺️☺️ Cieee dah pada punya polo cieee Selamat yaa Sasti, Konrad, Dira, Vendra, Sari, Dita, Nadean, Is, dan Ika!! We are so proud of you ghes!! Semangat untuk terus berproses dalam tahap kehidupan kalian yang selanjutnya dan menjadi pribadi yang be more, be MAGIS yaa Mewakili segenap teman-teman pengurus, aku mohon maaf lahir dan batin atas segala kekurangan kami dalam memfasilitasi formasi teman-teman sekalian. Sampai berjumpa di on going formation alias kepengurusan tahun depan yaakk!! Mari berjalan lebih jauh, Peziarah Pengharapan! AMDG! ❤️

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *