Apakah Yesus Harus Memikul Beban Gaya Hidup Mewah Kita?

Tulisan ini adalah refleksi pribadiku tentang bagaimana seni bisa menyentil cara kita memaknai hidup dan iman, di tengah gaya hidup modern saat ini yang serba cepat dan konsumtif. Sebuah perayaan kecil dan refleksi di bulan Juni 2025 lalu setelah 2,5 tahun melalui banyak perjalanan hidup di Australia. Jauh dari kampung halaman, juga membuatku lebih banyak membuka mata untuk memaknai hidup dan menghargai berbagai sudut pandang yang sebelumnya banyak terabaikan.

Dalam program work and holiday yang sedang kujalani di Australia ini, aku merasa mendapat akses untuk menjangkau pengalaman serta ilmu yang lebih luas. Aku pun belajar dari sesama anak muda yang berasal dari seluruh negara di dunia yang sama-sama berpartisipasi dalam program ini. Kesempatan baik yang kurasa menjadi sarana untuk mengenal diri dan karakter masyarakat dunia secara lebih dalam.

Perjalanan ini tanpa sadar juga banyak memberikan warna baru dalam hidupku. Dalam contoh kecil, misalnya lepas dari kelekatan “aku harus makan nasi”. Rasanya tak mudah bukan bila sedari kecil, sebagai masyarakat Indonesia, kita sangat tergantung pada hal tertentu. Pengalaman kecil ini kurasa juga menjadi modal yang amat berharga untuk mengaktualisasi bagaimana cara baru memandang hidup. Tentunya banyak pengalaman menarik juga yang tak pernah ku jumpai sebelumnya bila saat itu aku tidak memutuskan pergi ke Australia. 

Selain bekerja, liburan adalah DNA kami hehehe. Begitulah yang kurasakan dari semangat anak-anak muda yang pergi ke Australia untuk memulai hidup barunya. Tidak disangka semangat ini juga mendorong kami untuk mencoba hal-hal baru yang mungkin akan susah didapatkan di negara asal sebelumnya. Salah satunya adalah pameran lukisan yang aku kunjungi di bulan Juni 2025 lalu.

Pameran ini bertajuk The Art of Banksy: “Without Limits” di Perth, Australia. Perjumpaanku pada karya-karya sang seniman yaitu, Banksy bukan pertama kalinya. Sudah sejak tahun 2020 aku mengikuti jejak keseniannya yang lekat dengan isu-isu sosial. Karyanya seolah menjadi respon terhadap kondisi dunia yang makin tidak tertebak akhir-akhir ini. Banksy adalah seorang street artist “misterius” asal inggris yang karyanya hadir secara acak di tembok-tembok ruang publik, khususnya di Inggris.

Pameran The Art of Bansky: “Without Limits”

Pada pameran ini, aku terpaku pada satu karya yang berjudul Consumer Jesus. Pada karya ini Yesus digambarkan tergantung tanpa salib sambil menggenggam tas belanja di kedua tangannya. Mungkin bagi sebagian orang yang lekat dengan tradisi atau nilai yang lebih tradisional, lukisan ini cenderung terlihat sebagai sebuah candaan pada simbol-simbol keagamaan. Tapi bagiku, emosi sesaat itu tidak perlu menjadi trigger untuk menghalangi kita menikmati karya tersebut secara murni dan mendalam.

Dengan karya seni yang provokatif, kita sebagai penikmat ditantang untuk lebih mendalami pesan yang ingin disampaikan oleh sang seniman. Pun juga diajak untuk berani melihat dari sisi yang totally berseberangan dari pandangan umum yang ada. Dalam situasi ini, tanpa sadar kita juga ditantang untuk keluar dari ‘echo chamber’—ruang nyaman pikiran yang sering membuat kita lupa untuk melihat sisi lain dunia.

Pada karya ini, aku terdiam cukup lama dibandingkan dengan momen ketika melihat karya-karya lainnya. Banksy seolah membawaku untuk bertanya pada diri sendiri, “Apakah Yesus akan kecewa jika Ia tahu bahwa kita sebagai umatnya terjebak pada perilaku konsumtif maupun impulsif yang ditunjukan hanya agar dianggap lebih keren dalam lingkungan terdekat?” Demikian juga dengan berbagai pertanyaan lain yang terefleksi dari lukisan ini.

Tak bisa dipungkiri gaya hidup ataupun pola pertemanan saat ini membuat kita ada pada garis tepi perangkap perilaku konsumtif dan impulsif tersebut. Bagaimana tidak, kerap kali ukuran keren dalam circle pertemanan dewasa ini disematkan kepada orang-orang yang rajin mengikuti trend. Misalnya mengikuti olahraga padel. Pertanyaannya: apakah ini panggilan murni kita? Atau sebetulnya hanya trend musiman sesaat? Rasanya kita sudah akrab dengan alur siklus yang bisa ditebak ini. 

Pada saat yang sama, kita dihadapkan pada realita PHK besar-besaran. Belum lagi daya beli yang semakin merosot. Tidak heran jika World Bank mengeluarkan data bahwa tahun 2024, ada sekitar 60% warga Indonesia yang dikategorikan kedalam kategori miskin. Pada lukisan ini, akupun kembali bertanya dalam hati, “Jika Yesus menjadi temanku, apakah Ia memilih untuk datang ke lapangan padel di pagi hari atau memberi tumpangan pada temannya yang akan melakukan interview kerja karena tidak punya motor?” Aku rasa, Yesus pun tahu mana yang hanya menjadi euforia sesaat dan mana yang menjadi kesempatan sekali seumur hidup bagi seseorang.

Akhirnya, perlu diterima kenyataan bahwa kita tidak selalu bisa menyenangkan orang lain. Dengan kehendak bebas, kita berhak merasa bahagia dalam versi ideal sesuai visi masing-masing pribadi. Kebahagiaan itu tidak bergantung pada apa yang saat ini sedang happening. Demikian, kita berhak berada dalam lingkungan yang dapat menerima diri kita apa adanya, sebagai manusia yang apa adanya.

12 Murid Yesus 

Hal itu juga yang kupelajari dari Yesus ketika bersama dengan 12 murid-Nya. Tentunya tetap ada perbedaan pandangan bahkan pertentangan ketika Yesus mengajarkan nilai-nilai kebaikan pada para murid-Nya. Namun yang paling penting adalah Yesus tetap setia dengan nilai-nilai tersebut tanpa memperdulikan pertentangan maupun resistensi dari orang lain. Sebab Ia percaya bahwa nilai-nilai kebaikan itulah yang menjadi kompas kehidupan bagi banyak orang. Bahkan sampai di masa ini. 

Mungkin Yesus tidak datang untuk memarahi kita karena ikut-ikutan bermain padel. Tapi Ia mungkin akan menjadi apabila kita lupa bahwa kasih, kepedulian, dan keadilan lebih berharga dari status sosial. Pertanyaan yang perlu terus kita refleksikan ialah:  Apakah gaya hidup kita saat ini mencerminkan nilai yang Ia ajarkan?


Gabriel Angelius

Gabriel, Gen Z asli indonesia yang juga alumni MAGIS “angkatan pandemi” 2020. Sedang merefleksikan sebuah panggilan hidup di Australia. Aktivitas outdoor menjadi hobi barunya dikala libur kerja. Penikmat kopi di pagi hari bersama podcast End Game.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *