“The human being is created to praise and serve God alone. All created things are to be used only inasmuch as they lead us to this end—or set aseide if they hinder it.”
– Spiritual Exercises 23
Pada akhir rangkaian formasi MAGIS, bahan utama yang seringkali diberikan adalah “Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta” (SE 230-237). Selain untuk memperlihatkan akhir dari perjalanan Rohani St. Ignatius Loyola yang tertuang dalam Latihan Rohani-nya, hal ini juga hendak menunjukkan bahwa perutusan seorang anggota komunitas MAGIS ada dalam perjumpaannya dengan yang lain di dalam dunia.
Meskipun demikian, tanpa landasan yang kuat, teks “Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta” hanya akan menjadi hal yang sangat manusiawi tanpa adanya paradigma Ilahi sedikitpun. Artinya, teks ini hanya akan menunjukkan bagaimana cara berhubungan dengan orang lain dan dunia luar “dengan menyertakan Tuhan”. Dalam hal ini, Tuhan seakan menjadi faktor yang “ditambahkan/ditempelkan” dan bukan “melekat” dalam cara bertindak yang ditawarkan “Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta”.
Oleh karena itu, tulisan singkat ini hendak mengingatkan dasar utama agar Tuhan tidak menjadi yang “ditambahkan (additional)” namun sungguh “MELEKAT-MEMBADAN-TERINKORPORASI (inherent/embodied)” dalam setiap perutusan yang dijalankan oleh para formandi dan pengurus di manapun, kapanpun, dan dalam bidang apapun.
KEMBALI KE “ASAS-DASAR”
Jika melihat “buku merah” atau buku panduan formasi komunitas MAGIS, terdapat dua tujuan dasar dari Komunitas ini: (a) Memperkenalkan spiritualitas Ignatian kepada awam, terlebih kaum muda dan (b) dengan demikian, diharapkan dapat mempersiapkan generasi muda sebagai kader-kader baik bagi Gereja maupun Bangsa yang bernafaskan spiritualitas Ignasian. Kedua tujuan ini hendak dicapai dengan bantuan beberapa modul yang salah satunya adalah Asas-Dasar.
Setiap anggota dan pengurus MAGIS pastinya pernah setidaknya bertemu dengan salah satu teks yang cukup sulit dimengerti ini. Asas-Dasar seringkali menjadi momok dalam formasi MAGIS karena mencoba memahami teks yang sulit ini butuh waktu berbulan-bulan lamanya. Bahkan, jika seorang pengurus ditanya soal bagaimana pengalamannya mengikuti perbul Asas-Dasar. Jawaban yang acapkali saya temui adalah, “Gak paham frater; saya ketiduran tadi; bisa jelasin dengan lebih sederhana dan personal gak frater?” Tentunya, tidak semua melontarkan jawaban yang sama atau senada. Ada juga yang paham betul dan bisa menjelaskannya kembali.
Akan tetapi, jika ditanya, “Sejauh mana kamu menghidupi Asas-Dasar ini?”, belum tentu jawaban yang positif muncul ke permukaan. Ya. Menghidupi lebih sulit dari memahami, namun di situlah “makna keberadaan” dari sebuah spiritualitas. St. Ignatius Loyola meletakkan teks ini di awal rangkaian Latihan Rohani bukan sebagai sebuah hiasan, namun menjadi pondasi atas tindakan dan langkah-laku dalam menjalankan perutusan baik di dalam maupun di luar komunitas MAGIS. Maka, kembali ke dasar adalah hal yang mutlak perlu.
RE-ORIENTASI DENGAN MENINGGALKAN KELEKATAN
Salah satu bantuan besar dari Asas-Dasar adalah “re-orientasi”. Asas-Dasar mengarahkan lagi seorang pribadi yang mengejar kemuliaan duniawi (vanagloria) kepada tujuan-tujuan yang lebih Ilahi. Sederhananya, Asas-Dasar membuat seseorang tidak bertindak semata-mata seturut keinginan pribadi dan perasaan yang sangat-amat-terlalu dangkal dan spontan, Namun menyelaraskan diri dengan hasrat besar alasannya diciptakan di dunia ini.
Melalui perbul Asas Dasar, seseorang diajak untuk meninggalkan ego dan kelekatan-kelekatan tertentu yang membatasi dirinya untuk melayani Tuhan. Kelekatan ini bisa berupa benda (yang kelihatan) akan tetapi juga perasaan maupun harga diri (yang tidak kelihatan).
Dalam bahasa Inggris, hal-hal yang tidak kelihatan ini disebut disordered affection yang maknanya lebih dalam dari “kelekatan yang tidak teratur” dalam terjemahan bahasa Indonesia karena mencakup berbagai emosi dan perasaan yang tidak dapat dikendalikan secara sadar. Perasaan yang langsung diluapkan tanpa proses kesadaran tertentu dan berdampak negatif pada diri sendiri serta lingkungan sekitar dapat dimasukkan dalam kategori ini.
Sebagai contoh, ketika marah dan langsung membentak atau melempar barang, ketika iri hati dan langsung mencibir, ketika sakit hati dan langsung mengisolasi diri, ketika takut langsung bersembunyi dari kerumunan dan lain sebagainya. Silakan berhenti sejenak pada bagian ini dan ingat kembali pengalaman berformasi (dan menjadi pengurus).
Dari sini sesungguhnya sudah bisa dilihat bahwa perasaan-perasaan dan “auto-relieving” yang ada menunjukkan bagaimana seseorang lekat pada perasaan tersebut; atau dalam arti ini lekat terhadap egonya. Jika hal-hal di atas masih berlanjut, pertanyaan selanjutnya adalah, “Siapa yang kulayani selama ini? Apakah ego pribadi atau Tuhan Allah?”
KERENDAHAN HATI
Dalam salah satu retret yang saya jalani, pendamping retret tersebut menuliskan suatu catatan penting ketika seseorang hendak masuk lebih dalam pada teks Asas-Dasar. Agar tidak mengurangi maknanya, berikut saya tuliskan dalam bentuk aslinya:
“…possessions and achievements have value only inasmuch as (tantum quantum) they glorify God. The term magis—meaning “more for God”—is not about worldly success (magis vanitas) but deeper praise and service (magis Deo). True magis is shaped by the Divine Master Builder, who alone gives proper form to our lives (cf. 1Cor. 3:9-11).”
Jika perutusan/pelayanan masih dilihat sebagai pemenuhan ego pribadi yang diwarnai dengan perasaan-perasaan atau emosi-emosi, alangkah lebih baik jika pertanyaan berikut ditimbang baik-baik: “Sejauh mana instrumen dalam modul-modul MAGIS khususnya Asas-Dasar membantuku untuk mengambil keputusan dan menjalankan perutusan yang memuliakan Allah?”
Ketika seorang bertindak dalam rangka untuk memuliakan Allah, nilai utama yang melekat dalam setiap perkataan dan tindakan mereka adalah “kerendahan hati.” Dalam segala keberhasilannya, sang pribadi akan selalu berkata, “Syukur kepada Allah.” Jika suatu hal tidak berjalan sesuai rencananya, dengan segala kerendahan hati ia akan bertanya, “Adakah hal yang perlu saya/kita perbaiki?” tanpa nada menghakimi/mengelak sedikitpun. Jika ada hal yang menyakitkan hatinya, kemarahan dan rasa sakit hati tidak langsung menguasai.
Semua hal ini kiranya sangat sulit untuk dicapai. Dalam tiga tingkatan kerendahan hati, St. Ignatius Loyola malah memberikan hal yang lebih sulit lagi untuk dicapai. Pribadi yang memiliki kerendahan hati tingkat pertama bertindak dalam rasa takut akan Allah. Pribadi yang memiliki kerendahan hati tingkat kedua bertindak seturut hal-hal yang dikehendaki Allah (misalnya cintailah musuhmu). Sedangkan, mencapai tingkat ketiga yang paling sulit adalah melakukan hal-hal yang dilakukan Allah dalam diri Yesus (misalnya mengampuni, mencintai, dan mendoakan musuh).
Jika alasan utama dari menjalankan sebuah perutusan bukanlah “untuk memuliakan Allah” (atau setidaknya menghasrati hal ini), mungkin keputusan untuk mengambil suatu perutusan atau pelayanan di dalam komunitas Gereja Kudus Allah di tengah umat-Nya perlu untuk dikaji ulang. Terlebih karena perutusan dan pelayanan tidak pernah menempatkan seseorang di atas suatu panggung yang akan diperhatikan orang banyak, namun meletakkannya di balik layar bahkan di bawah panggung yang sangat jarang dilihat dan diapresiasi.
“Lord Jesus, teach me to be generous and magnanimous … teach me to serve you as you deserve … to give and not to count the cost … to fight and not to heed the wounds … to toil and not to seek for rest … to labor and not to seek reward, except that of knowing that I do your will. Amen.”
Yosephus Bayu Aji Prasetyo, SJ
Yosephus Bayu Aji Prasetyo SJ adalah seorang calon imam dalam Ordo Serikat Yesus. Setelah menempuh pendidikan di Seminari Menengah St. Petrus Canisius, Mertoyudan, Jawa Tengah selama empat tahun pada 2012-2016, ia melanjutkan pembinaan sebagai calon imam Serikat Yesus di Novisiat St. Stanislaus, Girisonta, Ungaran selama dua tahun (2016-2018). Selesai dengan formasi awal dalam Serikat Yesus, pria yang akrab dipanggil Bayu ini melanjutkan Pendidikan Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta (2018-2022). Selama pendidikan di Sekolah Tinggi Driyarkara itu, ia juga mendapat perutusan menjadi Pendamping MAGIS Jakarta tahun 2019-2021. Setelah selesai dengan pendidikan Filsafat, ia ditugaskan untuk berkarya selama satu tahun di Paroki St. Maria, Botong, Keuskupan Ketapang (2022-2023) dan selanjutnya selama satu tahun di Catholic Center St. Paulus, Payak Kumang, Keuskupan Ketapang (2023-2024). Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan Teologi di Loyola School of Theology, Manila, Filipina.



