Waktu begitu cepat berlalu. Tidak terasa formasi MAGIS tahun 2024/2025 telah usai, padahal rasanya seperti baru kemarin saja perjalanan ini dimulai. Memang waktu kadang-kadang seperti itu. Ketika dijalani rasanya seperti begitu panjang; namun begitu sampai di akhir dan menengok ke belakang, rupanya seperti berlalu begitu saja. Demikianlah aku mengakhiri formasiku di MAGIS pada tahun yang kedua ini. Masih dengan rangkaian proses yang sama namun dengan peran yang berbeda. Dan masih sama seperti formasi tahun pertama, aku mengakhiri formasi di tahun kedua ini juga dengan penuh syukur dan sungguh bergembira atasnya.
Dari yang Ideal sampai Seadanya, Semampunya
Kalau melihat lagi awal perjalanan tahun kedua ini, semuanya bermula ketika aku ditawari untuk menjadi humas. Sebetulnya gak pede di awal. Tapi kemudian aku mengingat-ingat lagi apa yang aku tuliskan ketika missioning waktu itu. Akhirnya tawaran itu aku terima dan bertemulah aku dengan teman-teman humas yang keren sekali: Agung, Alexa, Mas Rio, dan Kak Hara.
Kolese Kanisius, September 2024. Aku masih ingat ketika di awal diminta menyusun aktivitas yang mau dilakukan selama setahun ini bersama dengan teman-teman humas di Kolese Kanisius. Sebetulnya masih mengadaptasi aktivitas yang dilakukan humas periode sebelumnya karena memang aktivitas tersebut baik semua. Namun dengan tambahan ide-ide improvisasi yang harapannya menjadi semakin ciamik. Aku merasa, pada waktu itu, rencana yang sudah dibuat sungguh baik dan ideal. Pun pada waktu itu, aku dan teman-teman masih percaya bahwa itu bisa dilakukan dengan lancar. Sayangnya kenyataan berkata lain. Waktu membuktikan bahwa ternyata aktivitas-aktivitas tersebut masih terlalu ideal untuk direalisasikan dengan segala situasi dan kondisi yang ada. Ini sempat menimbulkan kekesalan dalam diriku karena tidak bisa berkontribusi dengan baik.
Dalam perjalanan waktu, rupanya aku merasakan banyak hal yang tidak sesuai harapan & idealku. Ada litani gerutu dan kesal yang terlintas dalam benakku kala menghadapi situasi-situasi itu. Sampai di satu titik aku bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tidak kujumpai. Pertemuan yang justru mengoyak dan menggugah hatiku di hari-hari selanjutnya.
Pada pertemuan itu, kami bertemu dan bercakap-cakap hingga larut malam. Ketika temanku ini bercerita, satu hal yang terus-menerus ia ulangi adalah kata-kata, “Seadanya, semampunya.” Ia menceritakan bahwa ketika berhadapan dengan tegangan situasi ideal dan tidak ideal, yang bisa ia lakukan ialah mengusahakan sebisanya. Memang ada kesan bahwa seadanya, semampunya ini suatu usaha yang setengah-setengah. Namun ketika direfleksikan lebih dalam, justru kata-kata itu menjadi bentuk doa yang indah. Bahwa di tengah situasi tegangan yang ada, ini hasil usaha terbaik yang bisa diberikan. Bahwa masih ada kekurangan di sana-sini, itu urusan belakangan. Yang penting sudah mengusahakan semampu yang diri ini bisa. Dari sanalah, karya ajaib-Nya itu yang akan menjadikan baik segala sesuatunya. Bahkan dalam kekurangan sekalipun.
Maka seadanya, semampunya menjadi kacamata baru untuk melihat semua proses yang sudah terjadi waktu itu. Semua orang sudah berusaha sebaik mungkin dengan kapasitas masing-masing. Bahkan mungkin masih ada yang tertatih-tatih karena beban pekerjaan yang perlu dipikul. Ketika yang diharapkan itu belum terjadi, bukan berarti semua orang tidak mengusahakannya. Ada kondisi-kondisi tertentu yang membatasi. Demikian yang perlu dilihat bukanlah apakah ini sudah sesuai harapan atau belum. Tetapi bagaimana segala sesuatunya sudah berjalan dengan baik. Sebab setiap orang sudah mengusahakan seadanya, semampunya. Pun juga karya ajaib-Nya turut ambil bagian dalam perjalanan formasi ini. Ini yang membawa hatiku menjadi lebih lega, lebih sumeleh.
Ia Berkeliling sambil Berbuat Baik
Dengan hati yang sudah lebih ringan dan menjelang masa-masa akhir formasiku ini, aku mulai mencoba mengumpulkan lagi berbagai pengalaman yang sudah kulewati. Pun juga pertemuan dengan berbagai orang yang kualami pada periode formasi ini. Satu hal yang kemudian muncul ialah dalam formasi ini aku dibantu oleh banyak orang baik dalam berbagai macam kesempatan. Kehadiran dan perbuatan baik mereka itu menjadi bentuk nyata kemurahan hati Allah untukku dalam periode formasi ini.
Sayangnya, sekalipun Allah telah bermurah hati untukku lewat perpanjangan tangan banyak orang, rupanya aku belum bermurah hati sepenuhnya pada yang lain. Masih ada kekurangan-kekuranganku yang menjadi batu sandungan bagi yang lain. Terkait ini, aku memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua orang yang merasa tersandung lewat kekurangan-kekurangan yang kulakukan. Berbagai masukan dan teguran yang diberikan juga aku amini sebagai bentuk kemurahan hati Allah. Dengan cara-cara yang sungguh murah hati, Ia juga membantuku melihat blind spot dan mengajakku untuk berkembang lagi.
Proses formasiku yang ditandai dengan pengalaman, pertemuan, kehadiran, bantuan, masukan, dan teguran, sekali lagi, menjadi tanda kemurahan hati Allah untukku. Rasanya seperti Ia sedang berkeliling dengan setia dari hati ke hati untuk membagikan Kabar Sukacita. Memang tersamar hadir-Nya, namun perpanjangan tangan banyak orang yang murah hati menjadi tanda kehadiran nyata-Nya. Yang dituliskan tentang Dia 2000 tahun lalu tidak berubah sampai pada saat ini, bahwa, “… Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan,” (bdk. Kis 10:38). Memang mantap betul Gusti Yesus ini.
Pada akhirnya formasiku di MAGIS tahun yang kedua ini sudah selesai. Akhir dari perjalanan memang menjadi hal tak terhindarkan dari awal sebuah perjalanan. Dengan akhir itu, ada perjalanan dan lembaran baru yang siap dibuka. Demikian, pesan-pesan yang disampaikan-Nya padaku tidak berubah: untuk sumeleh dan untuk bermurah hati sebagai perpanjangan tangan-Nya. Sebab Ia terus-menerus berkeliling dan berbuat baik bagi setiap orang. Salam, doa, dan Berkah Dalem.
Flaviantius Febriano Iko
Akrab disapa Iko. Buruh swasta yang melayani beberapa manufaktur Kretek Kudus. Kopi, kretek, ber-“dongeng” dengan sesama, dan menemani orang-orang muda menjadi kesukaannya.


