• 1 Companionship
  • 2 Services      
  • 3 Spirituality      

Tuhan Hadir Dalam Bentuk Apapun...

Tanggal : 25 Jul 2011, 8:29 pm, Oleh Giasinta Angguni Pranandhita

maGis Immersion Experiment

28 June - 3 July 2011

"Man-or-woman-for-and-with-others"

magis

Sharing Pengalaman Experiment

***

"Bu, kok ga pake payung? Kan hujan...", ujarku pada Bu Anas, yang hanya tersenyum sambil terus berjalan ke ladang.

"Loh hujan ini kan berkah dari Tuhan, masa ditolak? Kalo kita pake payung ya sama aja nolak berkah dari Tuhan." Bu Anas masih terus saja melangkah meski badannya mulai basah kuyup. Saya pun merasa malu mendengar kata-kata Bu Anas dan memutuskan untuk melipat lagi payung yang sudah terlanjur saya buka.

"Memangnya ibu nggak sedih ya kalo hujan gini? Kalau hujannya deres kan taneman ibu bisa mati, sawah ibu bisa kebanjiran, terus panennya gagal"

"Nggun, Ibu itu selalu bersyukur, mau hujan, mau matahari terik, Ibu selalu bersyukur sama Tuhan. Tuhan itu datengnya bisa dalam bentuk apa aja, bisa dalam bentuk hujan, bisa dalam bentuk matahari. Kalau hujan mungkin kamu mengira Ibu akan sedih karena sawah ibu kebanjiran. Wah ya tentu saja enggak. Ibu justru bersyukur kalo hujan. Karena tetangga-tetangga Ibu yang penambang pasir, pas hujan begini justru dapet rejeki banyak karena pasirnya kebawa hujan dan turun dari gunung. Nah kalau matahari bersinar, Ibu juga bersyukur karena berarti taneman Ibu bisa hidup semua. Tuhan itu bisa dateng dengan bentuk apapun, dan bisa dateng kapanpun. Nah tinggal bagaimana kita melihat semua kebaikan Tuhan itu. Buat Ibu, hujan itu ya berkah Tuhan yang turun dari langit. Makanya Ibu ga pernah mau pake payung, biar Ibu bisa ngerasain cinta Tuhan sama Ibu secara langsung."

Bu Anas adalah seorang guru TK sekaligus petani di Sumber - sebuah desa di lereng Merapi. Ia tidak pernah mempelajari spiritualitas Ignasian secara khusus seperti yang saya dapatkan di maGis. Namun cara hidupnya yang begitu maGis telah menginspirasi saya. Kata-katanya sore itu saat kami akan menanam tomat di ladang miliknya begitu terpatri dalam ingatan saya.

Pengalaman 4 hari 3 malam tinggal bersama dengan keluarga Bu Anas membuat saya belajar bagaimana merasakan kasih Tuhan lewat hujan, bagaimana mensyukuri setiap pengalaman yang terjadi dalam hidup, dan terlebih lagi bagaimana menjadi teman bagi orang lain. Tiga tahun sudah berlalu sejak saya tinggal dengan keluarga itu. Namun Bu Anas tetap menyapa saya dengan hangat lewat sms. Seringkali di saat-saat yang tidak terduga, Bu Anas menanyakan kabar saya, atau bahkan sekedar mengucapkan selamat istirahat.

Jogja 2008

 



Counter Hits


© 2015 Design by KEREAKTIFdotCOM