• 1 Companionship
  • 2 Services      
  • 3 Spirituality      

Ad Majorem Dei Gloriam di masa Prapaskah

Tanggal : 14 Mar 2011, 10:23 am, Oleh Tomy Dwi D.H.

Apakah ke gereja itu penting ?
apa yang didapat dari ke gereja ?
Di gereja merasa bosan ?
Tidak tahu tujuan ke gereja ?
Merasa malas ke gereja ?
mengurus kerjaan/sibuk jadi nda gereja ?
mengunjungi saudara/teman yang sedang opname di rumah sakit sehingga tidak ke gereja ?

Itu adalah beberapa perasaan yang muncul dibenak saya saat hari Minggu/Sabtu,
hari ketika saya diberi waktu libur untuk ke gereja mengikuti misa syukur.

Motto/semboyan dari para jesuit yaitu "Ad Majorem Dei Gloriam" atau disingkat AMDG berarti Untuk Keagungan Allah Yang Lebih Besar. Semboyan tersebut bisa ditemukan di kapel , gedung, dan gereja yang dikelola oleh para Jesuit.  Salah satu yang pernah saya lihat dan pertama kali adalah di kapel St. Bellarminus  Yogyakarta . Kata asing tersebut menimbulkan banyak pertanyaan dalam diri saya. Lama kemudian, walaupun saya bukan seorang jesuit melainkan awam namun saya  memegang motto itu dalam hidup saya.

Permulaan
Beginilah kisah perkenalan saya dengan AMDG.  Selama di Yogyakarta, saya mengikuti kegiatan komunitas orang muda katolik yang diselenggarakan oleh romo Jesuit dan suster FCJ.  Nama komunitas tersebut adalah MAGIS. MAGIS (màh-gis) bukan berarti magic atau sihir tapi berarti "Lebih"/ more. Komunitas  ini dimulai tahun 2007 dan hingga saat ini tahun 2010.  Rata-rata anggota setiap angkatan berkisar 20-30 orang.  Saya adalah anggota angkatan pertama MAGIS. Tujuan dari komunitas  ini adalah mendalami spiritualitas ignasian, membentuk rasa persaudaraan , serta bersosial.  Ada 12 rangkaian kegiatan untuk mewujudkan tujuan tersebut yang masing-masing kegiatan dilakukan perbulan sehingga tepat 1 tahun.

Selama 1 tahun itulah saya diolah , dibimbing , diberi latihan oleh pembimbing rohani yakni seorang suster FCJ. Kami « wajib » bertemu dengan pembimbing rohani sekali sebulan.  Saat itu, saya masih kuliah dan magang kerja di sebuah perusahaan IT di Yogyakarta. Banyak kendala yang saya alami saat itu . Mulai dari problem dalam diri atau pihak luar (kuliah, kerja) . Setelah 4 kali mangkir bertemu dengan pembimbing rohani, akhirnya saya mengerti arti dari sebuah "komitmen" . Saya sudah tergabung dalam komunitas itu dan sudah terikat dengan apa yang harus saya lakukan, oleh sebab itulah saya wajib untuk melaksanakannya.   Saat itu saya ragu untuk melanjutkan kegiatan tersebut, karena pikir saya "tanpa  bergabung pun saya bisa mendapatkan hal-hal tersebut dengan berkegiatan di khalayak umum".


Pembimbing rohani adalah sosok yang membantu saya dalam mengolah pemahaman saya mengenai hal yang berbau religius.   Bersama  pembimbing rohani banyak pertanyaan menjadi lebih jelas, dibanding bertanya pada teman atau sobat yang belum tentu memiliki kebenaran/sumber yang pasti. Pembimbing rohani tidak mutlak tahu atas jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan, namun hal itulah yang membuat saya senang dengan pembimbing rohani. Kami dapat saling belajar dan membantu. Waktu muda adalah waktu yang saat bagus untuk mengeksplorasi mengenai iman  Ini sesuai dengan jiwa kaum muda yang suka mencoba-coba hal baru, mencari jati diri, kritis serta energik. ”Mumpung saya masih muda dimana saya masih bisa bergerak kesana kemari,  lebih baik waktu diisi dengan kegiatan yang positif, jadi.. beruntunglah saya bisa bergabung di komunitas ini” pikir saya.

Banyak hal saya diskusikan dengan pembimbing rohani, seperti pernikahan beda agama, apakah merokok itu dosa , hingga mengenai hal ke gereja. Saat itu saya jarang ke gereja terutama dalam mengikuti misa syukur.  Dalam setahun hanya natal dan paskah saja. Saya menjelaskan bahwa, saya tidak ke gereja karena saya tidak mau bertemu dengan orang-orang munafik di gereja, ke gereja hanya disuruh ortu, ke gereja supaya terlihat dewasa/keren, di gereja terlihat alim tapi diluar sana suka bertingkah kasar hingga suka memukul, hal itu membuat saya berbeban pikiran saat ke gereja. Saya mengenal beberapa orang seperti yang sebut di atas dan bertemu mereka di gereja, oleh karena itulah saya tidak konsen di dalam gereja. Mendengar penjelasan saya, pembimbing tidak menjawab "Kamu salah!" atau "Kamu benar!" tapi "Apa yang kamu dapatkan dari penjelasanmu? mari KITA renungkan bersama." . Pokok masalahnya sebenarnya ada dalam diri saya sendiri yang berakibat pada munculnya  tembok sangat besar mengenai hal itu.   Saya menjadi  keras kepala dan menjadi hakim dalam diri sendiri. Akhirnya saya pulang dengan hati senang , puas dan lega serta membawa bahan untuk direnungkan.

Dalam permenungan saya, saya tersadar bahwa saya merupakan sosok yang idealis dan logikalis namun tidak kritis dalam berfikir. Saya cenderung untuk memikirkan hal yang realistis atau berfikir logika saja,  hanya mau mendengar hal/kabar  yang baik namun menutup mata mengenai hal buruk. Kecenderungan inilah yang menjadi dasar dari Tembok Besar dalam diri saya. Dalam permenungan saya yang makin dalam, saya menyadari  bahwa Allah benar-benar sangat menyayangi saya. Allah bekerja untuk saya lewat musibah-musibah yang saya alami, lewat orang lain yang saya jumpai,  saudara , pembimbing rohani,  pendek kata melalui setiap pengalaman.  Salah satu pengalaman tersebut adalah sebagai berikut.

Pilgrimage
Saya pernah melakukan perjalanan jauh selama 3 hari 2 malam dengan tujuan Jogja – gua Maria Mojosongo -Solo, melewati perbukitan, sawah, jalan besar hingga desa yang belum pernah kami ketahui.  Jaraknya kurang lebih 60 km.  Saya bersama dengan dua teman, hanya berjalan kaki, berbekal sepasang baju ganti, botol minum, topi, sandal, alat mandi, identitas diri, alkitab, dan tanpa bekal uang sepeserpun kecuali ongkos bus untuk kembali ke Yogya. Perjalanan ini kami sebut peregrinasi. Tujuan dari peregrinasi ini adalah untuk mengalami hidup dengan mengandalkan Allah semata.  Saat itu saya cidera kaki karena belum terbiasa jalan jauh namun akhirnya kami  sampai juga di tujuan dengan badan utuh tanpa kelaparan ataupun kehausan. Hal yang kami lakukan itu adalah bodoh atau aneh di mata orang lain, namun itulah salah satu cara kami untuk belajar semakin mengenal diri, orang lain, alam dan Allah. Saya mengalami dikasihi Allah secara hebat selama peregrinasi tersebut.

Sejarah Hidup
Menjadikan saya rajin ke gereja  pun susah-susah gampang. Yang menjadi tembok penghalang bagi saya adalah Agama. Saya percaya dengan adanya Allah, tapi saya tidak yakin dengan gereja katolik. Mengenai gereja katolik selalu yang terlintas adalah hal-hal buruk dari para romo, uskup, hingga paus. Mereka cenderung kolot, kaku, keras kepala , hingga kabar tak sedap seperti perselingkuhan, merokok, hingga berorientasi uang.  Pembimbing saya menyadarkan saya mengenai persepsi itu, “Jika orang lain berkata bahwa Ibu mu orang buruk rupa, cacat tubuh, hingga melakukan kejahatan….. apakah kamu masih menganggap dia ibumu ?”, pertanyaan tersebut membuat saya tersadar kembali akan semua hal yang terjadi dalam diri saya, melihat bahwa saya sangat menyayangi ibu saya. Saat itulah komitmen saya diuji.  Keluarga saya adalah keluarga katolik dan saya dibaptis saat sudah dewasa. Dengan sadar saya telah memutuskan untuk dibaptis.

Permenungan
Lebih dari sekedar  komitmen, saya semakin menyadari bahwa beriman adalah perkara relasi personal dengan Allah.  Pada akhirnya, ke gereja adalah untuk berjumpa dengan Allah.  Hal-hal tidak ideal yang saya sebutkan di atas memang mengurangi semangat namun saya berupaya tetap sadar bahwa iman adalah relasi kasih dengan Allah.  Saya belajar menjadi beriman secara otonom artinya tidak terpengaruh oleh orang lain.

Masa prapaskah dan paskah adalah masa dimana kita disadarkan kembali akan amanat Yesus di akhir hayat-Nya, bahwa merayakan makan roti dan minum anggur bersama adalah untuk mengenangkan Dia. Dalam masa prapaskah kita diajak untuk menyadari kembali akan komitmen kita sebagai orang katolik. Oleh karena itulah, bagi saya ke gereja di hari Sabtu/Minggu untuk mengikuti misa syukur adalah hal yang penting, karena mengikuti misa syukur adalah bentuk komitmen saya sebagai orang katolik dan ungkapan syukur kepada Allah yang mengasihi saya. Jika saya tidak bisa mengikuti misa tersebut karena suatu hal, maka pastilah hal itu lebih penting daripada mengikuti misa.  Pilihan untuk tidak mengikuti misa bisa saja merupakan pilihan yang  "Ad Majorem Dei Gloriam" sejauh memang Allah semakin dimuliakan melalui tindakan tersebut.


Share on Facebook

Link yang berhubungan


- Tidak Ada -



Counter Hits


© 2015 Design by KEREAKTIFdotCOM