• 1 Companionship
  • 2 Services      
  • 3 Spirituality      

Tangan Tuhan terbuka kepadaku, Dia berkata "Mari!", Dia menunggu jawabanku

Tanggal : 22 Feb 2011, 11:48 am, Oleh Agnes Linda Santoso

Pendahuluan

Tulisan ini disusun dari hasil refleksi pengalaman hidup yang kualami di salah satu bagian program MAGiS. "Hening", "refleksi" kemudian "menuliskan hasil refleksi" adalah pilar dasar mengelola kehidupan rohani ala Ignasian. Dengan refleksi, semua pengalaman hidup yang dialami (yang kelihatannya biasa saja - lumrah - setiap hari terjadi) menjadi "LEBIH" bermakna. Menulis hasil refleksi menjadi sebuah kesempatan untuk benar-benar mendapatkan intisari dari setiap pengalaman yang kelihatannya biasa-biasa saja dalam hidup ini. Dengan demikian, hidup tidak lagi biasa-biasa saja, tetapi hidup menjadi LEBIH hidup.

Salah satu pengalaman di program MAGiS yang kuangkat pada tulisan ini adalah perigrinasi. Saya berjalan kaki selama tiga hari dua malam dengan rute Manisrenggo - Kayumanis - Taman sari - Ringin Larik - Ngarsopuro - Cepogo - Selo - Ketep - Tlatar - Muntilan. Tempat terakhir yang kutuju adalah makam Romo Sanjoyo, Muntilan. Perjalanan menempuh jarak kurang lebih 60 km. Saya berjalan bersama dua orang teman MAGiS bernama Lana dan Agus. Sepanjang perjalanan kami tidak membawa bekal apapun, baik berupa uang, makanan, maupun alat komunikasi. Kami hanya berbekal sebuah botol minum, sebuah baju ganti dan kartu tanda pengenal (KTP).

Perjalanan kali ini dalam hidupku dapat kuibaratkan sebagai Allah yang mengulurkan tanganNya kepadaku. Dia berkata, "Mari!" Dia mau menunjukkan siapa Dia dan siapa saya bagiNya. Dia juga menunggu bagaimana saya akan menanggapi uluran tanganNya yang sangat personal itu. Sebuah tawaran yang sangat pribadi, dalam, dan tepat pada relung-relung kemanusiaanku yang paling dalam, bahkan tersembunyi - suatu kenyataan yang tidak aku sadari sebelumnya - tersingkap jelas dalam pengalaman perjalanan kali ini. Persis seperti itulah, setiap pengalaman hidupku selalu bermakna ungkapan-ungkapan relasi dengan Allah.

Rahmat yang aku mohon kepada Allah dari perjalanan ini adalah kepasrahan kepadaNya, kerendahan hati dan menyadari siapa Dia & aku sesungguhnya yang belum aku ketahui.

Tulisan ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu bagian 1 : pra perjalanan, bagian 2 : perjalanan, bagian 3 : pasca perjalanan. Dua bagian pertama akan mengisahkan dan merefleksikan bagaimana Allah yang mengulurkan tanganNya kepada saya serta bagaimana saya menanggapiNya. Dua bagian tersebut juga memuat bagaimana rahmat-rahmat Allah yang saya mohon mulai dicurahkan. Semuanya itu terjadi dalam setiap peristiwa sederhana dan manusiawi di perjalanan saya, bukan dengan cara spektakuler atau heroik yang sering kali dibayangkan orang. Bagian ini akan menggambarkan betapa Allah adalah sosok yang sangat konkrit, dekat dan menyatu dengan saya. Allah bukanlah sosok yang jauh, besar dan mengawang-awang. Allah sangat nyata dalam semua peristiwa yang sangat manusiawi.

Saya memilih gaya penulisan dalam format dialog berupa sapaan dan jawaban di bagian dua. Sapaan menggambarkan bagaimana Allah menyapa saya, sedangkan jawaban adalah tanggapan dari pihak saya terhadap Allah. Saya ingin setiap pembaca bisa merasakan relasi personal yang terbangun diantara saya dan Allah, layaknya bagaimana saya berelasi dengan kekasih saya.

Bagian terakhir berisi refleksi saya pasca perjalanan dimana kata-kata kunci yang menjadi mutiara hidup serta suatu panggilan baru dari Allah diberikan kepada saya. Selanjutnya, bagaimana saya membangun niat pribadi dalam panggilan tersebut - suatu cara hidup baru yang ditawarkan Allah dan niat pribadi saya untuk hidup dalam cara itu.


Bagian 1
Pra Perjalanan

 

Berhadapan dengan Diri Sendiri, Berhadapan dengan Allah
Berhadapan dengan pengalaman akan berjalan selama 3 hari dua malam, tanpa bekal, uang, orang yang bisa melindungi dan tak tahu arah yang dituju; suatu keadaan dimana aku tidak mengetahui sama sekali apa yang akan terjadi (unknown zone) menjadi sangat sulit bagiku. Aku adalah seseorang yang banyak kali mengandalkan kekuatan diri sendiri, yang selalu merencanakan segala sesuatunya dengan jelas, rapi dan terukur. Kali ini aku temukan bahwa tidak ada kekuatan apa pun yang bisa aku handalkan. Hal yang selama ini menjadi handalanku, relasiku, pengetahuanku, dayaku, barang-barang yang ada di sekitarku kini tidak ada lagi.

Pada saat yang bersamaan kutemukan juga kelekatan-kelekatan pribadiku yang tidak aku sadari selama ini, zona aman dalam hidupku yang harus kutinggalkan. Bahkan hal-hal yang sangat sepele, ya selama ini begitu lekat sehingga tidak kusadari. Pelembab muka salah satunya. Jaket salah duanya.

Aku tidak bisa tidur beberapa malam sebelum acara dimulai. Aku bahkan berpikir untuk mundur dan tidak ikut, namun aku tidak mau mundur. Mungkin saja karena harga diriku, bukan karena memang aku ingin mengikutinya. Dan akhirnya aku berkata sambil mengancam kepada Tuhan dengan penuh kemarahan, "Awas ya Tuhan, kalau sampai aku mati, matilah aku!" Kemarahan juga aku rasakan dengan suster pendamping, dalam hatiku, "Enak saja suster itu suruh aku seperti ini, sedangkan dia tetap ditempatnya!"

Berbagai macam aliran pikiran datang silih berganti. Ketakutan, kecemasan akan banyak hal itulah yang dominan. Dari soal kebersihan, kulit terbakar, kesehatan, dijahatin orang di jalan, sandal putus, hujan, menstruasi di jalan, kesasar, tidak dapat makan, tidak dapat tumpangan menginap, dsb. Aku merasakan musuh iman bukanlah tidak beriman, tetapi ketakutan.

Meninggalkan semua yang kumiliki dan masuk ke unknown zone kudapati sisi diriku yang berbeda, ya selama ini ada dalam diriku, namun tidak pernah kelihatan karena tidak banyak situasi yang bisa melihatkan sosok yang ini. Mengandalkan kekuatan sendiri, respon kemarahan, cemas dan takut adalah dominan. Kesempatan ini membawakku bisa bertemu dengan sosok diriku yang selama ini tidak kukenal. Aku mulai berkenalan dengan sosok yang ini.

Sebaliknya, di sisi Allah, Allah sangat merindukan saya untuk datang kepadanya secara murni, asli, apa adanya aku (pure), layaknya seperti seorang bayi yang baru lahir dari rahim ibunya, masuk ke kehidupan di dunia ini, menghandalkan seluruhnya kepadaNya dan belas kasih sekitarnya. Aku dapati memang aku tidak lagi murni seperti itu. Tapi Tuhan memanggil, dan selalu memanggil. Setiap peristiwa dalam hidup ini, saya dipanggil untuk percaya dan menggantungkan diri kepadaNya (TRUST). "Percayalah kepadaKU seperti orang buta" demikian kira-kira kata-kata Yesus kepadaku tentang belajar untuk kembali percaya kepadaNya.

Tuhan ternyata telah memberikan apa yang kubutuhkan, bahkan di saat aku belum memintanya. Aku memohon rahmat kepasrahan, kerendahan hati dan mengenali bagian diriku yang belum kukenal saat malam persiapan di wisma OMI. Kenyataannya, aku telah diproses oleh Tuhan melalui pergumulan beberapa hari sebelum berangkat ke wisma OMI, saat aku masih di rumah, belum memulai apa pun! Aku belajar percaya kepada Tuhan melalui masa dimana aku tahu secara sadar dan aku rencanakan untuk meninggalkan semua handalan hidupku selama ini. Percaya kepada Tuhan, akhirnya mendorong aku untuk belajar pasrah kepadaNya sekaligus rendah hati karena tidak lagi mengandalkan kekuatanku sendiri. Melalui rasa tidak aman yang aku hadapi, ketakutan dan kecemasanku, serta amarahku, aku menjadi tahu bahwa aku secara spontan akan marah apabila tidak merasa aman.

Beberapa hari sebelum keberangkatan hingga malam persiapan di wisma OMI adalah proses bagi saya untuk mengosongkan diri. Diri ibarat piala yang sudah penuh; penuh dengan kemampuan diri, relasi, barang-barang duniawi, kemajuan teknologi, uang, jaminan keamanan dunia... tidak ada lagi tempat yang cukup untuk Yesus. Mengeluarkan semua itu adalah sebuah langkah aktif, bahkan revolusioner untuk menghidupi arti "BERSERAH" kepada Allah. Memang benar, berserah atau pasrah atau percaya bukanlah sebuah sikap pasif dan ngelokro, tapi sebuah langkah yang sangat aktif bahkan dalam konteks ini, langkah yang revolusioner.

Dengan melepaskan semua itu, nyatalah apa yang diajarkan oleh Yesus : "Barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya." (Lukas 9:24). Melepaskan handalanku yang semu tidaklah berarti aku kehilangan dalam hidup ini, tapi persis di saat itulah aku menerima rahmat dari Tuhan untuk iman, pengharapan dan kasih.

Di doa terakhir saat malam persiapan, aku merasa jauh lebih siap untuk menghadapi perjalanan tiga hari ke depan. Akhirnya sikap batinku berkata dengan lepas, "JALANI SAJA". Keesokan paginya saat hendak berangkat bertiga-tiga, kami diberi penumpangan tangan oleh suster pendamping untuk mohon berkat Allah perjalanan 3 hari ke depan. Saat itu menjadi peristiwa yang khusus bagi saya pribadi karena di saat itulah saat pertama saya menghadapi dengan sangat nyata bahwa saya sungguh tidak punya apa-apa lagi selain berkat Allah yang dicurahkan dari penumpangan tangan ini. Saya sungguh-sungguh sadar bahwa hidup saya 3 hari ke depan hanya terjadi karena berkat Allah. Kesadaran ini adalah kesadaran yang sangat penting dalam memulai perjalanan 3 hari ke depan.

Saya berjalan bersama dua orang teman, Agus dan Lana. Kami bersepakat untuk 3B - Bersama, Berbagi dan Berserah sepanjang perjalanan. Kami akan selalu bersama, apa pun keadaan yang terjadi dengan salah satu dari kami. Tidak akan ada teman yang meninggalkan teman lainnya. Setiap rekan akan selalu berjalan dalam jarak pandang rekan lainnya. Kami akan selalu bersama saat menghadapi ketakutan kami, seperti mengemis makan, tempat tinggal, lelah, maupun sakit. Kami menggunakan sebanyak mungkin peralatan pribadi yang bisa dipakai bersama, seperti sabun, sampo, pasta gigi, dan botol minum. Dengan bersama melewati semuanya, kami akan saling berbagi sukacita kami, pengharapan kami, sekaligus kepedihan dan putus asa kami. Kami bertiga berserah sepenuhnya kepada Tuhan, sang penyelenggara hidup kami.


Bagian 2
Perjalanan

The boots represent feet that have walked a long way, but are blessed because they have always walked in Gods light

Sapaan 1: "Aku benar-benar ada bersamamu"
Perjalanan sedang menuju ke Manisrenggo, titik start perjalanan kami. Aku baru saja turun dari bis yang membawaku dari Prambanan. Baru beberapa langkah berjalan, Lana, teman seperjalananku berkata, "Aku minta sama Tuhan, mohon rahmat untuk mengalami luka, sudah lama aku tidak terluka." Aku melihatnya sedang memegang jari di tangan kirinya, ada goresan merah, darah segar mengalir. Sesekali Lana merintih, "Ssssshh.." menahan rasa sakitnya. Aku pun bertanya, "Kapan kejadiannya tanganmu terluka?" "Tadi pas turun dari bis, aku pegangan besinya supaya tidak terjatuh saat turun, lalu setelah turun, tiba-tiba tanganku sudah tergores seperti ini." Begitu kira-kira Lana menjawab.

Luka itu adalah kehadiran Tuhan yang pertama dalam perjalananku. Melalui luka itu Dia mau menujukkan bahwa "Aku benar-benar ada bersamamu!" Luka itu terjadi saat kami turun bis. Waktu itu aku sedang berkonsentrasi penuh untuk turun dari bis supaya tidak terjatuh. Aku rasa demikian juga dengan Lana dan Agus. Kami harus sungguh-sungguh mengatur tubuh dan keseimbangan serta ketangkasan tubuh supaya bisa selamat turun dari bis yang tidak sunguh-sungguh berhenti saat menurunkan kami. Dengan melihat luka Lana, aku menjadi benar-benar percaya bahwa ada Tuhan di sisiku, berjalan bersamaku. Aku tidak sendirian. Dia ada dan Dia sedang bekerja, bahkan di saat aku tidak lagi memikirkanNya. Dia sebetulnya sungguh ada.

Jawaban 1: "Ya, saya lapar Tuhan! Ya, saya takut untuk mengemis Tuhan!"

Siang hari di hari pertama perjalanan kami, cuaca terik oleh matahari yang bersinar sangat terang. Kami telah berjalan kaki setengah hari. Perut sudah terasa lapar. Aku membiarkan setiap respon fisik manusiawiku muncul, termasuk lapar. Dalam dunia saat ini dimana setiap manusia didorong untuk menekan sisi-sisi kemanusiaan mereka, terutama yang terlihat 'lemah', sikap mengakui rasa lapar, menerima bahwa hal itu terjadi dalam diriku tanpa perlu mengekang rasa itu adalah sebuah jalan menuju kerendahan hati dan bergantung sungguh pada Allah. Baiklah kalau kita berkata dengan jujur kepada diri sendiri dan Allah, "Ya! Saya lapar!". Sikap ini adalah sikap rendah hati, mau mengakui respon-respon manusiawi kita. Sikap ini sekaligus membuka pintu bagi Allah untuk mengambil alih hal manusiawi kita, dan menujukkan bahwa Dia ada dan bisa diandalkan!

Kembali pada rasa lapar di perjalanan, kami bertiga sepakat untuk mulai mengemis makanan. Ada gejolak perasaan di dalam hati, "Fiuhhh, akhirnya tiba juga saat-saat yang menegangkan ini." Kami berjalan terus sambil mulai mengamat-amati, tempat mana yang sekiranya bisa kami mintai makanan. Ada tempat yang kelihatannya bisa kami mintai, tapi langkah kami berjalan terus. Rasa takut dan malu membuat langkah kami terus berjalan, sekalipun kami telah sepakat untuk meminta makanan. Demikian terjadi hingga satu jam lamanya, dan akhirnya kami bulatkan tekad berhenti di sebuah rumah dengan kebun yang luas. Pikir kami, ini orang kaya, pasti punya makanan lebih dan akan memberi kami makan.

Dua orang temanku meminta dalam bahasa Jawa. Aku masih terdiam sambil terus menatap ibu di kebun rumah itu, seolah saya juga mau berkata, "Ya kami lapar Bu, tolong beri kami makan." Ibu itu berkata dalam bahasa Jawa yang tak kumengerti dan akhirnya kedua temanku mengajakku pergi dari rumah itu. Aku tahu bahwa kami tidak mendapatkan apa yang kami cari. Lana mulai menjelaskan bahwa ibu tersebut hanya pembantu di rumah itu dan dia tidak berani memberi makan.

Uuuhhhh!!! Akhirnya batu besar ketakutan, kecemasan, dan rasa malu kami terjawab sudah. Kami tidak mendapatkan makanan kali ini, tetapi takut, cemas dan malu itu menjadi berkurang setelah itu. Sekalipun aku ditolak, aku tidak bertambah besar rasa itu, tapi justru berkurang. Aku sudah tahu rasanya ditolak dan tidak mendapat makanan. 'Oh seperti itu!' dan aku ternyata kuat. Aku bisa menghadapinya. Lalu kami berjalan lagi mencari rumah mana yang bisa kami mintai.

Demikian pula dalam respon-respon emosi yang lebih kompleks seperti ketakutan, kekecewaan, kesepian, kemarahan, kebencian, kehilangan atau dorongan-dorongan yang sangat instingtif (yang sering kali ditekan) seperti hasrat seksual, agresifitas, serta semua dorongan kita untuk mengarah pada DOSA... Allah pertama-tama dan terutama hanya menghendaki aku mengakui itu, jujur pada diriku sendiri dan kepadaNya, serta menerima itu semua. Itu menuntut kerendahan hati yang terdalam, bahwa saya hanya manusia dan bukan siapa-siapa. Aku telah membiarkan Allah mengambil semua kemanusiawianku, dan menjadikanNya sarana untuk berkarya justru dalam hal-hal manusiawiku dan DOSAku. Kasih Allah menjadi nyata dalam kemanusiaanku, dan semakin nyata dalam DOSAku. Dari pihakku, aku hanya diminta untuk terus melangkah, menghadapi semua gejolak diri yang muncul, bukan menghindari atau bahkan melarikan diri!

 

Sapaan 2: "Terlalu tinggi hatikah kamu? Berilah dirimu ruang untuk Kucintai...Cinta tanpa syarat"
Masih melanjutkan cerita tentang mengemis makan di siang itu... Akhirnya setelah dua kali mengemis, kami mendapatkan kemurahan hati seorang janda beranak tiga untuk makan. Janda itu hidup pas-pasan. Nasi yang dihidangkan ke kami adalah nasi yang sudah berkutu banyak. Lauk telur dadar diberikannya kepada kami. Dua buah telur dipotong olehnya untuk kami bertiga. Masing-masing dari kami mendapat 1/3 bagian. Air minum di rumah itu sangat sulit. Kami mendapat jatah 1 gelas kecil air putih karena hanya itu yang ada.
Aku tahu bahwa hidupnya tidaklah mudah. Di balik nasi berkutu, telur seadanya dan segelas kecil air putih, aku merasakan kemurahan hati Allah. Janda itu menjadi personifikasi Allah yang sangat nyata bahwa Allah adalah murah hati. Janda itu memberikan apa yang ada padanya, sama seperti Allah memberikan apa yang ada padanya melalui PuteraNya sendiri Yesus Kristus.

Responku saat diberi makan itu adalah merasa tak pantas. Aku merasa tidak melakukan apa-apa untuknya tapi dia memberikan yang dimiliki, pemberian yang kuperoleh dari tetes-tetes terakhir pemiliknya yang berharga. Dalam dunia ini, dimana semua sudah diukur lagi secara nilai ekonomi, perhitungan untung dan rugi, kelayakan untuk mendapat sesuatu diukur dengan seberapa produktivitas kita, asing sekali pengalaman ini bagiku. Aku merasa tidak pantas menerima itu untuk sesuatu yang bukan jasaku.

Tetapi tetap menerima, memakannya dan mesyukurinya membuatku belajar tentang dikasihi Allah sangat konkrit, tanpa batas dan tanpa syarat. Saat aku lapar, aku membutuhkan makan, lalu aku meminta kepada orang yang tak kukenal dan aku mendapatkannya.. sangat sederhana, sekaligus sangat konkrit. Demikianlah cinta Allah kita temukan bukan pada hal-hal spektakuler semata, tapi perjumpaan denganNya dalam hidup sehari-hari, dalam peristiwa yang biasa terjadi sehari-hari, bahkan soal kebutuhan dasar, aku menemukanMu Tuhan. Aku mengenal Allah sangat mencintaiku, TANPA SYARAT melalui pemberian janda siang itu.

 

Sapaan 3: "Aku bersamamu"
Tiba saatnya kami harus mencari tempat menginap. Itu adalah petang hari di hari pertama kami. Kami berada di Kayumanis. Kami telah mencari sebelum hari gelap. Kami berharap saat gelap, kami sudah berada di rumah tumpangan. Rumah pertama yang kami mintai adalah rumah yang cukup besar dan bagus. Seperti biasa, kami berharap orang kaya bisa memberi kami tumpangan karena mereka memiliki lebih. Ternyata seorang ibu yang berperawakan besar keluar dengan membawa arit dan muka sangar (galak, seram) keluar dari rumah itu dan menolak kami. Kami disuruh pergi begitu saja sesaat setelah kami minta tumpangan.

Perjalanan kami lanjutkan terus mencari rumah lain yang sekiranya bisa kami tumpangi. Jarak antar satu rumah dengan rumah yang lain cukup jauh. Kayumanis adalah desa yang sangat terpencil, masih banyak hutan di daerah itu, rumah penduduk juga tidak banyak. Penerangan di jalan tidak ada. Jalan yang ada hanya jalan setapak yang penuh bebatuan. Kami meminta tumpangan di rumah ke dua. Saat itu, di halaman rumah berkumpul beberapa anggota keluarga. Mereka terlihat ramah. Kami lalu menjelaskan maksud kami untuk menumpang, kemudian mereka menyuruh kami untuk mencari pak RT. Mereka tidak mau meanggung risiko menampung orang asing dan menjadi bahan pertanyaan warga.

Kami putuskan untuk mencari rumah pak RT. Kami mempertimbangkan Pak RT punya otoritas lebih dibandingkan warga sehingga bisa menampung kami, orang asing ini. Langit sudah gelap saat kami mencari rumah pak RT. Gelap, sepi, sunyi, yang terdengar hanyalah suara anjing yang menggonggong di malam hari. Suara itu membuat suasana terasa mencekam. Kami tak kunjung menemui rumah pak RT. Akhirnya, karena semakin gelap, kami memutuskan untuk meminta tumpang di rumah warga terdekat saja. Seorang mbah (nenek) tua keluar dari rumah dan menasehati kami, mengapa kami orang muda masih berada di luar saat malam hari. Baginya, hal itu sangat tidak pantas untuk dilakukan. Si mbah menyuruh kami ke rumah pak RW saja jika mau menginap.

Kami ditolak untuk yang ketiga kalinya. Saat berjalan keluar dari rumah si mbah, aku mulai menitikkan air mata. Aku sangat sedih. Aku butuh tempat untuk menginap, tapi tidak ada yang mau memberi tumpangan, bahkan di teras luar rumah mereka pun, kami tidak boleh. Aku merasa "diping-pong" oleh warga karena mereka tidak mau mengambil risiko menampung orang asing. Aku tidak tahu bagaimana caranya kami bertiga bisa beristirahat malam ini.

Dalam kesedihanku, aku merasakan bagaimana Maria dan Yosef ditolak oleh pemilik penginapan untuk melahirkan Yesus. Tidak ada tempat untuk Yesus yang mau lahir. Sedih sekali rasanya saat itu. Aku terus menitikkan air mataku dalam kegelapan malam sambil terus terdengar suara anjing "mengaum" tak henti-hentinya.

Aku mampu bertahan hanya karena dua orang temanku. Agus dan Lana selalu berjalan bersamaku. Kami selalu bersama. Situasi memang mencekam malam itu dan menakutkan saat tidak tahu dimana tempat untuk bermalam, namun di lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasa tenang dan aman karena yakin bahwa aku tidak sendirian menanggung semua ini. Kalau toh kondisi sangat buruk, sehingga kami tidak mendapat tumpangan malam itu, kami akan menanggungnya bersama.

Kehadiran dua orang teman seperjalanan adalah kekuatan utama pada saat-saat sulit seperti malam ini. Tidak ada kata penghiburan dari mereka. Tidak ada kata semangat dari mereka. Mereka juga mengalami ketakutan sepertiku. Mereka juga sedih sepertiku. Kami bersama-sama hampir putus asa. Tetapi berjalan terus bersama. Mengemis terus bersama dan menanggung semua risiko perjalanan bersama adalah kekuatan tak terhingga. Tidak ada sikap saling menyalahkan. Semuanya ditanggung dan dihadapi bersama.

Aku tidak merasa ditinggalkan Tuhan saat itu, sekalipun sudah tiga kali kami ditolak untuk menumpang. Semua itu karena dua orang temanku. Kehadiran mereka cermin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkanku. Sahabat sejati adalah teman yang berjalan bersama, menanggung semua yang kutanggung pada saat-saat yang sangat sulit dan tanpa pengharapan. Dalam kegelapan malam itu, Tuhan berbisik sangat lembut di hatiku, "Aku bersamamu."


MAGiS berarti "LEBIH", adalah salah satu semangat Ignasian yang berarti melulu memilih yang LEBIH. Tujuannya adalah demi "LEBIH besar kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa (ad majorem dei gloriam). Kata MAGiS selanjutnya dipakai untuk nama sebuah program pendampingan rohani kaum muda katolik berbasis spiritualitas Ignasian. Latihan rohani St. Ignasius Loyola adalah sumber utama program MAGiS. Penulis adalah salah satu peserta program MAGiS wilayah Yogyakarta angkatan tahun 2009. (info lebih lanjut : www.magis-indonesia.com atau facebook : magis indonesia)

Perigrinasi , pilgrimage (Ing.), berziarah (Ind.), adalah sebuah istilah dalam tradisi Yesuit yang menunjuk pada perjalanan kaki para calon imam dalam proses pendidikannya selama 10 hari tanpa membawa uang dan bekal. Tradisi ini dihidupi sendiri oleh santo Ignasius Loyola, pendiri Serikat Yesus. Lebih jauh lagi, Yesus dan para rasul sendiri telah memberi teladan cara hidup demikian (bdk. Mrk 6:6b-13).

..:: BERSAMBUNG ::..



Counter Hits


© 2015 Design by KEREAKTIFdotCOM